KUNYIT
Divisio : Spermatophyta.
Sub Divisio : Angiospermae.
Kelas : Monocotyledoneae.
Ordo : Zingiberales.
Famili : Zingiberaceae.
Genus : Curcuma.Spesies : Curcuma domestica VAL. (C.longa Auct)
MORFOLOGI KUNYIT
- Batang merupakan tanaman tahunan yang tumbuh merumpun. Berbatang basah dan merupakan batang semu yang tersusun atas pelepah-pelepah daun yang saling menutup dan membentuk batang yang tingginya mencapai 0,75–1m
- Daun, bagian-bagian penyusun daun adalah pelepah daun, gagang daun, dan helai daun. Panjang helai daun antara 31–84 cm, sedangkan lebar daun antara 10–18 cm. Aroma daun dan rimpang kunyit amat khas dan daun kunyit dapat dimanfaatkan untuk bumbu penyedap masakan seperti gulai dan rendang.
- Bunga merupakan inflorencia (bersusun). Bunga biasanya muncul dari ujung batang semu. Panjang bunga antara 10–15 cm. Bunganya berupa bunga majemuk berwarna merah, putih atau kuning pucat dengan pangkal berwarna putih. Bunga-bunga ini biasanya mekar bersamaan.
- Rimpang atau akar tinggal atau akar rimpang berbentuk bulat panjang dan membentuk cabang rimpang berujud batang yang berada di dalam tanah. Bentuk rimpang bulat atau bulat memanjang dan memiliki akar serabut. Rimpang kunyit memiliki 2 bagian tanaman yaitu rimpang induk atau umbi utama dan tunas atau cabang rimpang.
BUDIDAYA KUNYIT
1. Syarat tumbuh
Kunyit banyak dijumpai di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai
pada ketinggian 2.000 m dpl, bercurah hujan antara 2.000–4.000 mm/tahun,
dan suhu udara sekitar 19 – 30º C. Tanaman kunyit dapat dibudidayakan
sepanjang tahun, namun yang paling baik pertumbuhannya adalah ditanam
pada awal musim hujan.
2. Bibit
Bibit atau perbanyakan yang berasal dari pemecahan rimpang umumnya relatif lebih mudah tumbuh meskipun ditanam alakadarnya.
Untuk memperoleh bibit yang baik perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Bibit harus berasal dari tanaman yang tumbuh subur, segar, sehat,
berdaun banyak dan hijau, kokoh, serta terhindar dari serangan penyakit
Bibit berasal dari tanaman yang telah cukup umur atau berasl dari
rimpang yang telah berumur lebih dari 7 bulan atau paling tidak telah
berumur setahun.
Lebih baik lagi apabila bibit telah dilengkapi dokumen atau mendapat pengakuan dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih.
Bentuk, ukuran, dan warna sedapat mungkin seragam.
Kadar air cukup dan benih telah mengalami masa istirahat yang cukup.
Benih terhindar dari bahan asing seperti : biji tanaman lain, kulit, kerikil, dan sebagainya.
Selanjutnya bibit perlu menjalani beberapa perlakuan. Adapun perlakuan yang sering dilakukan petani adalah sebagai berikut :
Bibit harus bersih
Sebelum disemai bibit dibersihkan dari batang semu, sisa akar, dan kotoran yang melekat.
Bibit harus sehat
Pilih rimpang yang sehat, tidak cacat, tidak rusak, dan kulit luarnya masih kelihatan segar dan tidak berkerut.
Memotong rimpang bakal bibit
Maksud dari pemotongan ini adalah agar diperoleh ukuran, berat, serta
untuk memperkirakan banyaknya mata tunas tiap rimpang. Tiap potongan
rimpang maksimum memiliki 1–3 mata tunas, berat potongan antara 20–30
gr, dan panjang rimpang sekitar 3–7 cm.
3. Merangsang pertumbuhan tunas
Untuk menyeragamkan pertumbuhan tunas setek rimpang maka dapat dilakukan
upaya penumbuhan tunas. Cara-cara menumbuhkan tunas rimpang kunyit
adalah sebagai berikut :
Diangin-anginkan
Rimpang bakal bibit diangin-anginkan di tempat teduh dan lembab selama 1
– 1,5 bulan. Untuk mempertahankan kelembaban, suhu lingkungan, dan
merangsang tumbuhnya tunas, perlu dilakukan penyiraman pada pagi dan
sore. Bibit dapat tumbuh dengan baik bila disimpan dalam suhu kamar
(25–28ºC).
Menempatkan rimpang di antara jerami
Untuk mempercepat tumbuhnya tunas adalah dengan menyimpannya di antara jerami dalam suhu 25–28ºC.
Merendam bibit dalam larutan zat perangsang tumbuh (atonik) dengan
perbandingan 1 cc per 1,5 ltr air selama 3 jam. Setelah itu, bibit
ditempatkan pada persemaian.
4. Pengolahan tanah
Sementara dilakukan perangsangan tunas, dilakukan pengolahan tanah.
Lahan dibersihkan dari gulma dan dicangkul secara manual atau
menggunakan alat mekanik. Tujuan pengolahan tanah selain untuk
menghilangkan gulma adalah untuk menggemburkan lapisan top soil maupu
sub soil sekaligus mengembalikan kesuburan tanah. Lalu tanah yang telah
diolah tersebut distirahatkan kira-kira seminggu, tujuannya adalah agar
gas-gas beracun menguap dan bibit penyakit atau hama pun akan mati
karena terkena sinar matahari.
5. Penanaman
Kebutuhan bibit per ha antara 0,50–0,65 ton/ha. Dari sini nantinya akan
didapatkan hasil antara 20–30 ton/ha. Selanjutnya bibit ditanam,
kedalaman tanam antara 5–10 cm dengan arah mata tunas menghadap ke atas.
Tanaman kunyit dapat ditanam dengan 2 pola yakni penanaman di awal musim
hujan dengan pemanenan di awal musim kemarau (7–8 bulan) atau penanaman
di awal musim hujan dan pemanenan dilakukan setelah dua kali musim
kemarau (12–18 bulan). Kedua pola tersebut melakukan masa tanam yang
sama, yaitu di awal musim penghujan. Perbedaannya hanya terletak pada
masa panen. Adapun jarak tanam tanaman kunyit untuk pola penanaman awal
musim hujan dan panen awal kemarau adalah 20–25 cm. Namun bila tanaman
kunyit tersebut hendak ditanam dengan pola tanam kedua maka jarak
tanamnya perlu disesuaikan yakni 60×40 cm atau 60×60 cm.
6. Pemindahan bibit semai
Pemindahan bibit yang telah bertunas harus dilakukan secara hati-hati
untuk menghindari agar tunas yang telah tumbuh tidak rusak. Bila ada
tunas atau akar bibit saling berkait maka perlu dilakukan pemisahan
secara hati-hati. Lalu letakkan bibit dalam wadah tertentu agar
memudahkan dalam pengangkutan ke lahan.
7. Pemeliharaan tanaman kunyit
a. Penyulaman
Penyulaman adalah penanaman susulan yang dilakukan apabila ada rimpang yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya buruk.
b. Penyiangan dan pembumbunan
Perlakuan ini bertujuan untuk menghilangkan rumput liar (gulma) yang
biasanya sering mengganggu penyerapan air, unsur hara, dan mengganggu
perkembangan tanaman. Hal ini biasanya dilakukan 3–5 kali bersamaan
dengan pemupukan dan penggemburan tanah. Penyiangan pertama dapat
dilakukan pada saat tanaman berumur setengah bulan, bersamaan dengan itu
dilakukan pembumbunan. Pembumbunan bertujuan untuk menjamin agar
rimpang tumbuh besar dan tanah tetap gembur.
c. Perbaikan drainase
Tanaman kunyit termasuk tanaman tidak tahan air maka drainase dan
pengaturan pengairan perlu dilakukan secermat mungkin agar tanaman
terbebas dari genangan air dan rimpang tidak membusuk.
d. Pemupukan
Selain pupuk dasar perlu dilakukan pemupukan susulan tahap kedua pada
saat tanaman berumur 2–4 bulan. Pupuk dasar yang sering digunakan adalah
pupuk organik sebanyak 15–20 ton/ha. Pupuk buatan yang sering dipakai
yaitu Urea 20 gr/pohon, TSP 10 gr/pohon, dan ZK 10 gr/pohon. Pupuk
buatan lain yang umum digunakan yaitu K2O 112 kg/ha pada tanaman umur 4
bulan. Dengan pemberian pupuk ini dapat diperoleh peningkatan hasil
sebanyak 38% atau 7,5 ton rimpang segar/ha.
e. Pemberantasan dan pengendalian hama, penyakit
1. Penyakit busuk bakteri rimpang
Gejala : kulit akar terlihat berkeriput dan mengelupas, kemudian rimpang lama-kelamaan membusuk dan keropos.
Penyebab : Drainase yang kurang baik atau rimpang terluka karena alat pertanian sehingga kemasukan cendawan.
Penanggulangan : Penyemprotan fungisida , misal Dithane M-45.
2. Karat daun
Gejala : Pada daun timbul semacam karat berwarna coklat. Akan
berbahaya bila menyerang tanaman muda atau daun muda karena sering
mematikan.
Penyebab : Taphrina macullans Bult dan Colletothrium capisici atau insek (kutu daun) yang disebut Panchaetothrips.
Penanggulangan : Mengurangi kelembaban dan dilakukan penyemprotan
insektisida misal Agrotion 2 cc/ltr atau fungisida seperti Dithane M-45
secara teratur seminggu sekali.
3. Hama ulat penggerek akar
Gejala : Tunas daun layu dan lama-kelamaan menjadi kering lalu membusuk. Serangan terjadi pada pangkal akar.
Penyebab : Oleh serangan insek yang disebut Dichcrosis puntiferalis.
Penanggulangan : Penyemprotan atau menaburkan insektisida misal Furadan 3-G.
f. Pemanenan kunyit
Tanaman kunyit siap dipanen umur 8–18 bulan. Saat panen yang tepat
adalah pada musim kemarau karena sari atau zat yang terkandung dalam
kunyit biasanya mengumpul. Ciri-ciri tanaman kunyit yang telah siap
panen ditandai oleh berakhirnya pertumbuhan vegetatif, seperti
terjadinya gejala kelayuan secara fisiologis atau terjadi perubahan
warna daun dan batang yang semula berwarna hijau berubah menjadi
kekuningan (tanaman kelihatan mati). Pemanenan dengan cara membongkar
rimpang menggunakan cangkul atau garpu. Berat basah rimpang bersih per
rumpun hasil panen dapat mencapai 0,71 kg. Produksi rimpang kunyit segar
per ha biasanya antara 20–30 ton
Tidak ada komentar:
Posting Komentar