Senin, 02 November 2015

seledri


A. Seledri (Apium graveolens L.)

Seledri (Apium graveolens L) adalah tanaman sayuran bumbu berbentuk rumput yang berasal dari benua Amerika, Seledri dapat tumbuh pada dataran rendah sampai tinggi, dan optimal pada ketinggian tempat 1.000-1.200 m dpl, suhu udara 15-240C.  Tanaman seledri juga dapat dikembangkan pada daerah tropis seperti di Indonesia. Sebagai tanaman subtropis seledri membutuhkan sinar matahari yang cukup sekitar 8 jam/hari (Haryoto,2009:13).

B. Klasifikasi

Klasifikasi tanaman seledri (Apium graveolens L.) adalah sebagai berikut:
Kingdom               : Plantae
Divisi                     : Spermatophyta
Subdivisi               : Angiospermae
Class                      : Dicotyledonae
Ordo                      : Apiales
Famili                    : Apiaceae
Genus                    : Apium
Spesies                  : Apium graveolens L.             (Backer C.A, 1995)

C. Morfologi Tanaman Seledri

Tanaman seledri (Apium graveolens L.) termasuk tanaman dikotil (biji berkeping dua) dan merupakan tanaman setahun atau dua tahun, yang berbentuk rumput atau semak. Morfologi dari tanaman seledri (Apium graveolens L.)  dapat dilihat pada Gambar 1. Berikut :
 Gambar 1. Morfologi Tanaman Seledri (Apium graveolens L. )
Tanaman seledri tidak bercabang, susunan tubuhnya terdiri dari akar, batang, daun, bunga dan buah.

              1)      Akar

Akar tanaman seledri (Apium graveolens L.) yaitu akar tunggang dan memiliki serabut akar yang menyebar kesamping dengan radius sekitar 5-9 cm dari pangkal batang dan akar dapat menembus tanah sampai kedalaman 30 cm, berwarna putih kotor (Haryoto, 2009 : 14). 

              2)      Batang

Batang Seledri (Apium graveolens L.) memiliki batang tidak berkayu, memiliki bentuk bersegi, beralur, beruas, tidak berambut, bercabang banyak, dan berwarna hijau.

              3)      Daun

Daun tanaman seledri (Apium graveolens L.) daun majemuk menyirip ganjil dengan anak daun 3-7 helai, anak daun bertangkai yang panjangnya 1-2,7 cm tangkai daun berwarna hijau keputih- putihan, helaian daun tipis dan rapat pangkal dan ujung daun runcing, tepi daun beringgit, panjang 2-7,5 cm, lebar 2-5 cm, pertulangan daun menyirip, daun berwarna hijau muda sampai hijau tua.

              4)      Bunga

Bunga tanaman seledri (Apium graveolens L.) adalah bunga majemuk berbentuk payung berjumlah 8-12 buah kecil-kecil berwarna putih tumbuh dipucuk tanaman tua. Pada setiap ketiak daun dapat tumbuh sekitar 3-8 tangkai bunga, pada ujung tangkai bunga ini membetuk bulatan. Setelah bunga dibuahi akan terbentuk bulatan kecil hijau sebagai buah muda, setelah tua buah berubah warna menjadi coklat muda (Haryoto, 2009:14). 

              5)      Buah

Buah tanaman seledri berbentuk bulatan kecil hijau sebagai buah muda, setelah tua buah berubah warna menjadi coklat muda.

D. Kandungan Gizi dan Manfaat Seledri

Seledri (Apium graveolens L.)  mengandung gizi cukup tinggi dan lengkap yaitu: protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, vitamin B1, vitamin C dan air. Selain kandungan gizinya cukup tinggi, seledri (Apium graveolens L.)  juga mengandung zat glukosida, apiol, flafonoid, dan apiin. Zat-zat tersebut bermanfaat sebagai obat peluruh keringat, demam, darah tinggi, rematik dan sukar tidur (Haryoto, 2009:15).

E. Syarat Tumbuh Tanaman Seledri

Seledri (Apium graveolens L.)  termasuk salah satu jenis sayuran daerah subtropis yang beriklim dingin. Perkecambahan benih seledri menghendaki keadaan temperatur minimum 90C dan maksimum 200C. Sementara untuk pertumbuhan dan menghasilkan produksi yang tinggi menghendaki temperatur sekitar 100C-180C serta maksimum 240C. Tanaman ini cocok dikembangkan di daerah yang memiliki ketinggian tempat antara 0-1200 m dpl, udara sejuk dengan kelembapan antara 80%-90% serta cukup mendapat sinar matahari. Seledri kurang tahan terhadap air hujan yang tinggi. Oleh karena itu, penanaman seledri sebaiknya pada akhir musim hujan atau periode bulan-bulan tertentu yang keadaan curah hujannya  berkisar antara 60-100 mm per bulan (Anonim,2011)1.
Persyaratan tanah yang ideal untuk tanaman seledri (Apium graveolens L.)  adalah harus subur, banyak mengandung bahan organik (humus), tata udara (aerasi), dan tata air (drainase) tanah baik, serta reaksi tanah (pH) antara 5,5-6,5 atau optimum pada pH 6,0-6,8. Tanaman seledri sangat menyukai tanah-tanah yang menyukai garam natrium, kalsium, fosfor, dan boron. Jika tanah kekurangan natrium maka pertumbuhan tanaman seledri akan meranan atau kerdil. Demikian juga jika tanah kekurangan unsur kalsium menyebabkan kuncup-kuncup daun seledri menjadi kering, sedangkan jika kekurangan unsur boron menyebabkan tangkai-tangkai daun seledri akan retak-retak atau belah-belah.  

daun sirih

DAUN SIRIH

Bukan perkara yang sulit menemukan sirih tumbuh bebas di Indonesia. Memang tanaman ini, konon, asli dari tanah nusantara. Meski demikian, bukan hal mustahil menemukan tanaman sirih tumbuh di Negara lain utamanya kawasan Asia Tenggara. Daun sirih ini memiliki banyak manfaat penting bagi manusia. Memang kandungan senyawa yang ada di dalamnya cukup melimpah. Untuk memahami tanaman ini lebih menyeluruh, berikut kami sajikan klasifikasi daun sirih.

 
Klasifikasi Dalam Ilmu Biologi
Dalam sistem binomial, klasifikasi daun sirih sebagai berikut:

  • Kerajaan : Plantae (tidak termasuk) Magnoliidae
  • Ordo: Piperales
  • Famili: Piperaceae
  • Genus: Piper
  • Spesies: Piper betle

Dengan berdasar pada klasifikasi daun sirih di atas, kita bisa sedikit mengurai morfologinya. Sebagai tanaman, sirih tumbuh dengan cara merambat pada medium lain seperti pohon. Ketinggiannya bisa mencapai 15 meter. Batang tanaman sirih ini memiliki warna coklat sedikit kehijauan. Batangnya bulat dan beruas. Pada bagian tersebut, akar yang melekat pada medium rambatan akan tumbuh.
Bagian daun tanaman sirih memiliki bentuk serupa jantung. Daunnya tunggal dan pada bagian ujung cenderung runcing. Daun ini tersusun dengan cara selang seling. Pada tiap daunnya terdapat tangkai. Daun tersebut memiliki aroma yang cukup khas apabila diremas. Daun ini memiliki kisaran panjang antara 5 sampai 8 cm. Lebarnya mulai dari 2 cm sampai 5 cm.
Tanaman sirih memiliki bunga dengan bentuk bulir. Bunga ini juga memiliki daun pelindung dengan ukuran 1mm, bentuknya bulat memanjang. Sirih juga memiliki buah yang digolongkan sebagai buah buni (buah dengan dinding dua lapis). Bentuk buah ini bulat dan warnanya hijau cenderung abu-abu.
Organ akar pada tanaman sirih digolongkan sebagai akar tunggang. bentuknya bulat dan warnanya coklat dengan sedikit menjurus pada warna kuning khas akar lainnya.

Klasifikasi Dalam Kehidupan Sehari-hari

Selain klasifikasi dalam kajian ilmiah, dalam keseharian pun kita mengenal adanya klasifikasi daun sirih. Pembagian lebih didasarkan pada warna daun sirih ketimbang kekerabatannya dalam kajian ilmian. Adapun jenis-jenis daun sirih yang dimaksud sebagai berikut:
  1. Daun sirih berwarna hijau. Daun yang satu ini lazim sekali ditemukan. Warna daunnya hijau muda sampai hijau pekat jika daun sirih sudah tua.
  2. Daun sirih merah. Tanaman sirih yang satu ini memang tak sebanyak sirih hijau. Namun keberadannya cukup sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan masyarakat banyak yang menanamnya di pekarangan rumah. Konon khasiat daun sirih merah melampaui sirih hijau.
  3. Daun sirih hitam. Jenis sirih yang satu ini terbilang langka. Oleh karena warnanya yang hitam, daun yang satu ini sering dihubung-hubungkan dengan hal mistis. Bahkan daun sirih hitam ini dikoleksi sebagai jimat.

kapulaga

KAPULAGA

Botani


Sinonim
:
Amomum kapulaga Sprague
Amomum compactum Solad ex Maton
Alpinia striata Horst.
Cardamomum minum Rumph.
Elettaria cardamomum Maton
Elettaria major Smith.
Klasifikasi


Divisi
:
Spermatophyta
Sub Divisi
:
Angiospermae
Kelas
:
Monocotyledoneae
Bangsa
:
Zingiberales
Suku
:
Zingiberaceae
Marga
:
Amomum
Jenis
:
Amomum cardamomum Willd.
Nama


Umum/Dagang
:
Kapulaga.
Sumatera
:
Roude cardemom (Aceh); Kapulaga (Melayu); Pelaga puwar (Minangkabau).
Jawa
:
Kapol, Kapol sebrang, Pelaga Palago (Sunda); Kapulaga; Kapulogo sabrang, Pulogo, Kapol sabrang (Jawa); Kapulaga; Kapolagha, Palagha (Madura).
Bali
:
Kapolagha, korkolaka.
Sulawesi
:
Kapulaga (Makasar); Gandimong, Gandimong (Bugis).
Asia
:
Pelaga (Malaysia), Luk grawan (Thailand).
Eropa
:
Cardamom (Inggris).
Deskripsi


Habitus
:
Tumbuhan berupa herba tahunan, tingginya dapat mencapai 1 – 5 meter.
Batang
:
Semu, bulat, membentuk anakan, hijau.
Daun
:
Daun tunggal, tersebar, berwarna hijau tua.  Helai daun licin atau agak berbulu, berbentuk lanset atau tombak, dengan pangkal dan ujung runcing, dan tepi daun rata.  Panjang daun sekitar 30 – 60 cm, dan lebarnya 10 – 12 cm.  Pertulangan menyirip.  Tangkai daun sangat pendek.  Panjang pelepah dan tangkai daun sekitar 1 – 1½ meter.  Antara palepah dan helai daun terdapat lidah yang ujungnya tumpul,
panjang sekitar ½ cm.
Bunga
:
Perbungaan berupa bulir (bongkol) yang kecil terletak di ujung batang, berwarna putih atau putih kekuningan.  Tangkai bunga muncul dari umbi batang, menjuntai, ramping.  Kelopak panjang, lebih kurang 1 – 1½ cm, berbulu, berwarna hijau.  Bunga berwarna putih, bergaris-garis lembayung, dengan warna kemerah-merahan di bagian tengahnya.  Mahkota berbentuk tabung, panjang 1 – 1½ cm, berwarna putih atau putih kekuningan.  Taju biasanya lebih panjang dari tabungnya.  Bibir bunga berwarna biru berlajur putih, tepinya kuning.  Benang sari panjangnya 1 – 1½ cm, kepala sari bentuk elips, panjang sekitar 2 mm.  Tangkai putik tidak berbulu, kepala putik berbulu, berbentuk mangkok.
Buah
:
Buahnya berupa buah kotak, terdapat, dalam tandan kecil-kecil dan pendek.  Buah bulat memanjang, berlekuk, bersegi tiga, agak pipih, kadang-kadang berbulu, berwarna putih kekuningan atau kuning kelabu.  Buah beruang 3, setiap ruang dipisahkan oleh selaput tipis setebal kertas.  Tiap ruang berisi 5 – 7 biji kecil-kecil, berwarna coklat atau hitam, beraroma harum yang khas.  Dalam ruang biji-biji ini tersusun memanjang 2 baris, melekat satu sama lain.
Biji
:
Kecil, hitam.
Akar
:
Akar serabut, berwarna putih kotor.  Rimpang bulat panjang, bercabang simpodial, berwarna putih kekuningan.  Pada awalnya cabang-cabang rimpang ini dibungkus oleh sisik-sisik yang pendek.  Semua bagian dari tumbuhan ini berbau harum.
.

Gambar 48. Amomum cardamomum Willd.
Ekologi dan Persebaran
Tumbuh bergerombol, membentuk banyak anakan.  Batang semu yang tersusun oleh pelepah-pelepah daun, berbentuk silindris, berwarna hijau. Umbi batang agak besar dan gemuk. Tumbuh liar di hutan primer dan hutan jati, di daerah pegunungan yang rendah dan
tanahnya agak basah, bercurah hujar tinggi, atau di daerah yang selalu berawan, pada ketinggian 200 – 1.000 m di atas permukaan laut.
Tumbuh subur di bawah naungan pohon-pohon kayu hutan, di tempat-tempat yang sangat terlindung. Tumbuhan ini juga banyak dibudidayakan, sebab buahnya dipergunakan sebagai rempah pada berbagai jenis masakan.
Tumbuhan ini tersebar hampir di seluruh Indonesia, terutama di Jawa Barat dan Sumatera Selatan.  Selain di Indonesia, kapulaga banyak ditemukan di Srilangka, India, Guatemala, Tanzania, Papua Nugini, dan Malabar.
Penggunaan Tradisional
Air rebusan seluruh bagian tanaman digunakan untuk obat kuat bagi orang yang merasa lemas atau lemah akibat kecapaian.  Juga berguna bagi orang yang berpenyakit encok atau rematik.  Kadang-kadang juga digunakan sebagai afrodisiaka (untuk meningkatkan libido).  Air rebusan batang digunakan sebagai obat menurunkan panas (demam). Buahnya dipergunakan untuk bahan penyedap dan penyegar makanan dan minuman.
Buah juga berkhasiat menghilangkan rasa gatal pada tenggorokan, sebagai obat batuk, dan obat sakit perut.
Rimpang sering digunakan untuk menghilangkan bau mulut, untuk obat batuk, dan menurunkan panas (sebagai antipiretikum). Rimpang yang dikeringkan, digiling, 1alu direbus dapat menjadi minuman penghangat bagi orang yang kedinginan, terutama bagi yang tinggal di pegunungan, di daerah beriklim dingin atau di hutan yang sangat lembab.  Minuman ini sekaligus dapat mengobati sakit panas dalam.
Khasiat
Semua bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan mulai dari batang, buah, hingga rimpang.  Buah Amomum cardamomum berkhasiat sebagai obat batuk dan obat perut kembung.
Obat batuk : a) Dipakai ± 6 gram buah Amomum cardamomum, dicuci dan direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit.  Hasil rebusan diminum sekaligus.; b) Biji kapulaga dicuci, dikunyak-kunyah.  Cairannya ditelan.
Batuk pada anak-anak : 15 butir buah kapulaga, 2 cabai jawa, 10 iris lempuyang, 5 cm kayu manis dicuci.  Dua bawang merah dikupas, dicuci, diparut.  Diseduh dengan ½ liter air, tutup tempatnya. Diminum setiap 2 jam sampai sembuh.
Perut kembung : 5 biji kapulaga dicuci, 5 iris jahe dicuci sebelum diiris. Rebus dengan segelas air sampai airnya tinggal setengah. Setelah dingin diminum satu kali sehari.
Mual : 5 biji kapulaga, sepotong kencur 3 cm, cuci, lumatkan.  Seduh dengan segelas air Sesudah dingin disaring dan airnya diminum.
Radang tenggorok : 10 buah kapulaga, sepotong kunyit 5 cm dicuci, dimemarkan, diseduh dengan segelas air.  Setelah dingin disaring, airnya separuh diminum pagi, separuh lagi malam.  Diulangi selama beberapa hari.
Bau mulut : 8 buah kapulaga, 1 cangkir daun pegagan dicuci lalu diseduh dengan ½ gelas air, tutupi.  Setelah dingin, disaring dan diminum pagi-pagi pada saat perut masih kosong.
Perut mulas karena kedinginan : 4 buah kapulaga dicuci, direbus dengan segelas air sampai airnya tinggal setengah. Saring, minum hangat-hangat.
Kandungan Kimia
Buahnya mengandung minyak atsiri yang terutama mengandung sineol, terpineol, dan borneol.  Kadar sineol dalam buah lebih kurang 12%.  Di samping itu buah kapulaga banyak mengandung saponin, flavonoida, senyawa-senyawa polifenol, mangan, pati, gula, lemak, protein, dan silikat.
Biji mengandung 3 – 7% minyak atsiri yang terdiri atas terpineol, terpinil asetat, sineol, alfa borneol, dan beta kamfer.  Di samping itu biji juga mengandung minyak lemak, protein, kalsium oksalat, dan asam kersik.  Dengan penyulingan dari biji diperoleh minyak atsiri yang disebut Oleum Cardamomi yang digunakan sebagai stimulans dan pemberi aroma.
.

kayu manis

KAYU MANIS
Kayu manis merupakan tanaman yang seluruh bagian batang atau kulit batangnya dapat digunakan sebagai obat.

Klasifikasi Tanaman
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Spermathophyta
Sub divisio      : Angiospermae
Classis             : Dicotyledonae
Ordo                : Ranales
Familia            : Lauraceae
Genus              : Cinnamomum
Spesies            : Cinnamomum burmannii (Ness.) Bl

Nama
  • Daerah :
Sumatera             : holim, holim manis, padang kulik manih, kayu manis, kanigar, modang siak-siak.
Jawa                   : huru mentek, ki amis, manis jangan, kanyegar
Nusatenggara      : kasingar, kecingar, cingar, onte, kuninggu, puundinga
  • Asing : cinnamon tree, kaneelkassia, yin xiang pi (Cina)

Deskripsi Tanaman
Tinggi tanaman kayu manis berkisar antara 5 – 15 m, kulit pohon berwarna abu-abu tua berbau khas, kayunya berwarna merah coklat muda. Daun tunggal, kaku seperti kulit, letak berseling, panjang tangkai daun 0,5 – 1,5 cm, dengan 3 buah tulang daun yang tumbuh melengkung. Bentuk daun elips memanjang, panjang 4 – 14 cm, lebar 1,5 – 6 cm, ujung runcing, tepi rata, permukaan atas licin warnanya hijau, permukaan bawah bertepung warnyanya keabu-abuan. Daun muda berwarna merah pucat. Bunganya berkelamin dua atau bunga sempurna dengan warna kuning. Ukurannya kecil. Kelopak bunga berjumlah 6 helai dalam dua rangkaian. Bunga ini tidak bertajuk bunga. Benang sarinya besrjumlah 12 helai yang terangkai dalam empat kelompok, kotak sarinya beruang empat. Persariann berlangsung dengan bantuan serangga. Buahnya buah buni berbiji satu dan berdaging. Bentuknya bulat memanjang. Warna buah muda hijau tua dan buah tua ungu tua. Panjang buah sekitar 1,3 – 1,6 cm, dan diameter 0,35 – 0,75 cm. Panjang biji 0,84 – 1,32 cm dan diameter 0,59 – ,68 cm.

Syarat Tumbuh
Ketinggian tempat penanaman kayu manis dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman serta kualitas kulit seperti ketebalan dan aroma. Kayu manis dapat tumbuh pada ketinggian hingga 2.000 m dpl. Cinnamomum burmannii akan berproduksi baik bila ditanam di daerah dengan ketinggian 500 – 1.500 m dpl. Kayu manis menghendaki hujan yang merata sepanjang tahun dengan jumlah cukup, sekitar 2.000 – 2.500 mm/tahun. Curah hujan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan hasil panen rendemennya terlalu rendah. Daerah penanaman sebaiknya bersuhu rata-rata 25°C dengan batas maksimum 27°C dan minimum 18°C. Kelembaban yang diinginkan 70 – 90 %, semakin tinggi kelembabannya maka semakin baik pertumbuhannya. Sinar matahari yang dibutuhkan tanaman 40 – 70%. Kayu manis akan tumbuh baik pada tanah lempung berpasir, banyak humus, remah, kaya bahan organik dan berdrainase baik. pH tanah yang sesuai 5,0 – 6,5.

Kandungan Kimia
Kayu manis mengandung minyak atsiri, eugenol, safrole, cinnamaldehyde, tannin, kaqlsium oksalat, damar, zat penyamak.

Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian
Kayu manis memiliki efek farmakologis sebagai berikut peluruh kentut (karminatif), peluruh keringat (diaforetik), antirematik, meningkatkan nafsu makan (stomakik), menghilangkan sakit (analgetik). Sifat kimiawinya pedas, sedikit manis, hangat dan wangi.

Khasiat dan Cara Pemakaian
1.Batuk
Bahan :
Kulit kayu manis 2 jari, daun sirih 3 lembar, cengkeh 3 buah, gula batu secukupnya. Pemakaian :
Semua bahan digodok dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum (Wijayakusuma, dkk, 1994).
2. Tekanan darah tinggi
Bahan :
Kulit kayu manis 1 jari, asam trengguli 2 jari, cekur 1 ½ jari, daun sena ¼ genggam, daun saga manis ¼ genggam, daun kaki kuda ¼ genggam, gula enau 3 jari.
Pemakaian :
Semua bahan dicuci kemudian dipotong-potong seperlunya, digodok dengan 3 gelas air sampai tersisa 2 ¼ gelas. Setelah dingin disaring, lalu diminum 3 kali sehari ¾ gelas (Wijayakusuma, dkk, 1994).
3. Asam urat
Bahan :
Kayu manis 1 jari, biji pala 5 g, kapulaga 5 butir, cengkeh 5 butir, ubi jalar merah 200 g, merica 10 butir, jahe merah 15 g, susu cair 200 cc.
Pemakaian :
Semua bahan kecuali susu direbus dengan 1.500 cc air sampai tersisa 500 cc. Kemudian disaring dan ditambahkan susu untuk diminum.
4. Diare
Bahan :
Kayu manis 5 g, daun jambu biji 5 lembar.
Pemakaian :
Kayu manis dan daun jambu biji direbus dengan 600 cc air dan biarkan hingga tersisa 300 cc. Air yang telah disaring ditambah gula secukupnya, kemudian diminum dua kali sehari 150 cc.

lengkuas

LENGKUAS
Botani

Sinonim
:
Alpinia galanga Stuntz.
Alpinia galanga (L.) Swartz.
Alpinia officinarum Hance
Alpinia pyramidata Bl.
Amomum galanga (L.) Lour.
Amomum medium Lour.
Languas galanga (L.) Merr.
Languas galanga (L.) Stunz.
Maranta galanga L.
Klasifikasi


Divisi
:
Spermatophyta
Sub Divisi
:
Angiospermae
Kelas
:
Monocotyledoneae
Bangsa
:
Zingiberales
Suku
:
Zingiberaceae
Marga
:
Alpinia
Jenis
:
Alpinia galanga (L.) Willd.
Nama


Umum/Dagang
:
Lengkuas.
Sumatera
:
Lengkueus (Gayo), Langkueueh (Aceh), Kelawas (Karo), Halawas (Simalungun), Lakuwe (Nias), Lengkuas (Melayu), Langkuweh (Minang), Lawas (Lampung).
Jawa
:
Laja (Sunda), Laos (Jawa), Laos (Madura).
Kalimantan
:
Langkuwas, Laus (Banjar).
Bali
:
Laja, Kalawasan, lahwas, Isem (Bali).
Sulawesi
:
Laja, Langkuwasa (Makasar); Aliku (Bugis); Lingkuwas (Menado); Likui, Lingkuboto (Gorontalo); Hingkuase (Sangihe).
Maluku
:
Laawasi lawasi (Ambon); Lawase,Lakwase, Kourola (Seram); Galiasa, Galiaha, Waliasa (Ternate, Halmahera); Langkwas (Roti); Langkuwas (Basemah); Laawasi, Lawasi (Alfuru); Lauwasel (Saparua); Langoase (Buru).
Asia
:
Lengkuas, Puar (Malaysia); Langkauas, Palia (Filipina); Padagoji (Burma); Kom deng, Pras (Kamboja); Kha (Laos, Thailand); Hong dou ku (Cina).
Eropa
:
Galangal, Greater galangal, Java galangal, Siamese ginger (Inggeris); Grote galanga, Galanga de I’Inde (Belanda); Galanga (Perancis); Grosser galgant (Jerman).
Deskripsi


Habitus
:
Merupakan terna berumur panjang, tinggi sekitar 1 – 2 m, bahkan dapat mencapai 3½ m.  Biasanya tumbuh dalam rumpun yang rapat.
Batang
:
Batangnya tegak, tersusun oleh pelepah-pelepah daun yang bersatu membentuk batang semu, berwarna hijau agak keputih-putihan.  Batang muda keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua.
Daun
:
Daun tunggal, berwarna hijau, bertangkai pendek, tersusun berseling.  Daun di sebelah bawah dan atas biasanya lebih kecil dari pada yang di tengah. Bentuk daun lanset memanjang, ujung runcing, pangkal tumpul, dengan tepi daun rata.  Pertulangan daun menyirip.  Panjang daun sekitar 20 – 60 cm dan lebarnya 4 – 15 cm.  Pelepah daun lebih kurang 15 – 30 cm, beralur, warnanya hijau.  Pelepah daun ini saling menutup membentuk batang semu berwarna hijau.
Bunga
:
Bunga lengkuas merupakan bunga majemuk berbentuk lonceng, berbau harum, berwarna putih kehijauan atau putih kekuningan, terdapat dalam tandan bergagang panjang dan ramping, yang terletak tegak di ujung batang.  Ukuran perbungaan lebih kurang 10 – 30 cm x 5 – 7 cm.  Jumlah bunga di bagian bawah tandan lebih banyak daripada di bagian atas, sehingga tandan tampak berbentuk piramida memanjang.  Panjang bibir bunga 2½ cm, berwarna putih dengan garis miring warna merah muda pada tiap sisi.  Mahkota bunga yang masih kuncup, pada bagian ujungnya berwarna putih, sedangkan pangkalnya berwarna hijau.  Bunga agak berbau harum.
Buah
:
Buahnya buah buni, berbentuk bulat, keras.  Sewaktu masih muda berwarna hijau-kuning, setelah tua berubah menjadi hitam kecoklatan, berdiameter lebih kurang 1 cm.  Ada juga yang buahnya berwarna merah.  Bijinya kecil-kecil, berbentuk lonjong, berwarna hitam.
Rimpang
:
Rimpang besar dan tebal, berdaging, berbentuk silindris, diameter sekitar 2 – 4 cm, dan bercabang-cabang.  Bagian luar berwarna coklat agak kemerahan atau kuning kehijauan pucat, mempunyai sisik-sisik berwarna putih atau kemerahan, keras mengkilap, sedangkan bagian dalamnya berwarna putih.  Daging rimpang yang sudah tua berserat kasar.  Apabila dikeringkan, rimpang berubah menjadi agak kehijauan, dan seratnya menjadi keras dan liat.  Untuk mendapatkan rimpang yang masih berserat halus, panen harus dilakukan sebelum tanaman berumur lebih kurang 3 bulan.  Rasanya tajam pedas, menggigit, dan berbau harum karena kandungan minyak atsirinya.
Sebenarnya lengkuas ada dua macam, yaitu lengkuas merah dan putih. Lengkuas putih banyak digunakan sebagai rempah atau bumbu dapur, sedangkan yang banyak digunakan sebagai obat adalah lengkuas merah. Pohon lengkuas putih umumnya lebih tinggi dari pada lengkuas merah. Pohon lengkuas putih dapat mencapai tinggi 3 m, sedangkan pohon lengkuas merah umumnya hanya sampai 1 – 1½ meter. Berdasarkan ukuran rimpangnya, lengkuas juga dibedakan menjadi dua varitas, yaitu yang berimpang besar dan kecil. Oleh karena itu, paling tidak ada tiga kultivar lengkuas yang sudah dikenal yang dibedakan berdasarkan ukuran dan warna rimpang, yaitu lengkuas merah, lengkuas putih besar, dan lengkuas putih kecil.
Lengkuas mudah diperbanyak dengan potongan rimpang yang bermata atau bertunas. Juga dapat diperbanyak dengan pemisahan anakannya atau dengan biji. Tanaman ini mudah dibudidayakan tanpa perawatan khusus.
Gambar 36. Alpinia galanga (L.) Willd.
Ekologi dan Penyebaran
Lengkuas tumbuh di tempat terbuka, yang mendapat sinar matahari penuh atau yang sedikit terlindung. Lengkuas menyukai tanah yang lembab dan gembur, tetapi tidak suka tanah yang becek. Tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia banyak ditemukan tumbuh liar di hutan jati atau di dalam semak belukar.
Tumbuhan ini berasal dari Asia tropika, tetapi tidak begitu jelas dari daerah mana. Ada yang menduga berasal dari Cina, ada juga yang berpendapat berasal dari Bengali, tetapi sudah sejak lama digunakan secara luas di Cina dan Indonesia terutama di Pulau Jawa. Sekarang tersebar luas di berbagai daerah di Asia tropis, antara lain Indonesia, Malaysia, Filipina, Cina bagian selatan, Hongkong, India, Bangladesh, dan Suriname. Di Indonesia, mula-mula banyak ditemukan tumbuh di daerah Jawa Tengah, tetapi sekarang sudah di budidayakan di berbagai daerah. Di Malaya, selain yang tumbuh liar juga banyak yang ditanam oleh penduduk di kebun atau pekarangan rumah.
Bagian yang Digunakan
Rimpang, buah, biji, daun, batang muda, dan tunas bunga.
Khasiat
Rimpangnya sering digunakan untuk mengatasi gangguan lambung, misalnya kolik dan untuk mengeluarkan angin dari perut (stomachikum), menambah nafsu makan, menetralkan keracunan makanan, menghilangkan rasa sakit (analgetikum), melancarkan buang air kecil (diuretikum), mengatasi gangguan ginjal, dan mengobati penyakit herpes. Juga digunakan untuk mengobati diare, disentri, demam, kejang karena demam, sakit tenggorokan, sariawan, batuk berdahak, radang paru-paru, pembesaran limpa, dan untuk menghilangkan bau mulut. Rimpang lengkuas yang dikunyah kemudian diborehkan ke dahi dan seluruh tubuh diyakini dapat mengobati kejang-kejang pada bayi dan anak-anak. Di samping itu rimpang lengkuas juga dianggap memiliki khasiat sebagai anti tumor atau anti kanker terutama tumor di bagian mulut dan lambung, dan kadang-kadang digunakan juga sebagai afrodisiaka (peningkat libido).
Khasiatnya yang sudah dibuktikan secara ilmiah melalui berbagai penelitian adalah sebagai anti jamur. Secara tradisional dari sejak zaman dahulu kala, parutan rimpang lengkuas kerap digunakan sebagai obat penyakit kulit, terutama yang disebabkan oleh jamur, seperti : panu, kurap, eksim, jerawat, koreng, bisul, dan sebagainya. Di India dan Malaysia, rebusan rimpang lengkuas atau rimpang yang dimasak bersama nasi diberikan kepada para ibu sehabis melahirkan.
Di banyak negara di Asia, rimpang lengkuas digunakan sebagai bumbu masak. Demikian pula buahnya sering digunakan sebagai bumbu masak atau rempah pengganti kapulaga.
Minyak lengkuas (Oleum galanga) sering ditambahkan sebagai aroma dalam pembuatan minuman keras dan bir. Oleum galanga juga bersifat insektisida.
Buah lengkuas dapat digunakan untuk menghilangkan rasa dingin, kembung dan sakit pada ulu hati, muntah, mual, diare, kecegukan (singuitus), dan untuk menambah nafsu makan. Juga dapat digunakan untuk menyembuhkan bisul.
Biji digunakan untuk mengatasi kolik, diare, dan muntah-muntah.  Daunnya digunakan sebagai pembersih untuk ibu sehabis melahirkan, untuk air mandi bagi penderita rematik, dan sebagai stimulansia. Tunas muda lengkuas dapat digunakan untuk mengobati infeksi ringan pada telinga. Batang yang sangat muda (umbut) dan tunas atau kuncup bunga dapat dimakan sebagai lalap atau sayur setelah direbus atau dikukus terlebih dahulu.
Penggunaan lengkuas sebagai obat, antara lain :
Panu : a) Sepotong lengkuas segar dicuci, memarkan salah satu ujungnya. Bagian yang memar dan berserabut dicelupkan ke 1 sendok makan cuka, sapukan ke bercak panu yang sudah dibersihkan. Lakukan 2 – 3 kali sehari sampai sembuh; b) Seibu jari lengkuas segar dicuci dan parut, 10 helai daun belimbing wuluh dicuci, lumatkan bersama 1 sendok teh kapur sirih dan garam, campur, oleskan ke panu 2 – 3 kali sehari sampai sembuh.
Nyeri haid : Seibu jari lengkuas segar, setelunjuk kunyit dicuci, kupas, memarkan, 1 sendok makan penuh ketumbar, 3 tanaman meniran beserta akarnya, cuci, rebus semua dengan 4 gelas air sampai airnya tinggal setengah, saring, untuk digunakan 2 hari. Minum pagi dan sore @ ½ gelas, sementara belum terminum simpan di lemari es.
Kutil : a) Sepotong lengkuas dicuci, parut, ulek bersama 2 sendok teh penuh kapur sirih, oleskan ke kutil beberapa kali sehari sampai sembuh; b) Sepotong lengkuas dicuci, parut, lumatkan bersama 1 bawang putih yang dikupas, cuci serta diberi 1 sendok teh cuka. Lalu oleskan pada kutil.
Obat kuat : a) 2 potong lengkuas segar @ sebesar ibu jari, 3 potong jahe segar seibu jari dicuci, parut, peras dengan kain. Campur airnya dengan sebutir ragi tapai yang dihaluskan dengan air dari 2 jeruk nipis, garam, ½ sendok teh merica, dan ½ gelas air, aduk. Minum secara berkala; b) Lengkuas dicuci, memarkan, rebus sampai airnya tinggal setengah dan minum secara berkala.
Menguatkan otot : Lengkuas juga dapat digunakan untuk menguatkan otot yang lama tidak digerakkan karena sakit atau rematik. Beberapa potong lengkuas segar dicuci, parut, peras dengan kain, gosokkan ke bagian tubuh yang lemah. Lengkuasnya bisa dipakai untuk menggosok.
Limfa bengkak : 2 potong lengkuas segar seukuran ibu jari, 3 potong temu lawak seukuran ibu jari, dicuci, iris, rebus bersama secangkir daun meniran dan 3 gelas air sampai airnya tinggal setengah, minum separuh pagi dan separuh sore. Ulangi sampai sembuh.
Membersihkan darah : 2 potong lengkuas sebesar ibu jari dikupas, parut, beri ½ gelas air, peras dengan kain, dan minum airnya.
Kandungan Kimia
Rimpang lengkuas mengandung lebih kurang 1% minyak atsiri berwarna kuning kehijauan yang terutama terdiri dari metilsinamat 48%, sineol 20% – 30%, eugenol, kamfer 1%, seskuiterpen, a-pinen, galangin, dan lain-lain. Selain itu rimpang juga mengandung resin yang disebut galangol, kristal berwarna kuning yang disebut kaemferida dan galangin, kadinen, heksabidrokadalen hidrat, kuersetin, amilum, beberapa senyawa flavonoid, dan lain-lain.
Penelitian yang lebih intensif menemukan bahwa rimpang lengkuas mengandung zat-zat yang dapat menghambat enzim xanthin oksidase sehingga bersifat sebagai antitumor, yaitu trans-p-kumari diasetat, transkoniferil diasetat, asetoksi chavikol asetat, asetoksi eugenol asetat, dan 4-hidroksi benzaidehida (Noro, et al., 1988). Juga mengandung suatu senyawa diarilheptanoid yang dinamakan 1-(4-hidroksifenil)-7-fenilheptan-3,5-diol.
Buah lengkuas mengandung asetoksichavikol asetat dan asetoksieugenol asetat yang bersifat anti radang dan antitumor (Yu, et al., 1988). Juga mengandung kariofilen oksida, kariofilenol, kuersetin-3-metil eter, isoramnetin, kaemferida, galangin, galangin-3-metil eter, ramnositrin, dan 7-hidroksi-3,5-dimetoksiflavon.
Biji lengkuas mengandung senyawa-senyawa diterpen yang bersifat sitotoksik dan antifungal, yaitu galanal A, galanal B, galanolakton, 12-labdiena-15,16-dial, dan 17- epoksilabd – 12 – ena – 15,16 – dial (Morita dan ltokawa, 1988).